Indonesiaku dan Piala Dunia

Indonesian fans hold banners before the final first leg match between Indonesia and Malaysia during the ASEAN Football Federation Suzuki Cup 2010 soccer tournament in Kuala Lumpur

Indonesiaku dan Piala Dunia

Indo Taruhan Bola – Piala Konfederasi telah berlangsung selama seminggu lebih. Semua pertandingan penyisihan grup telah selesai dilaksanakan. Beragam cerita mengiringi perhelatan yang mempertemukan juara dari masing-masing konfederasi dan tuan rumah Piala Dunia. Ada cerita gembiranya Pirlo saat mencetak gol di pertandingan ke 100 bersama timnas Italia, ada juga rekor gol saat sepuluh gol Spanyol merobek jala Tahiti, tim yang berisikan mayoritas bukan pemain sepakbola professional.

 Perjalanan Tahiti yang boleh disebut sebagai tim paling menghibur karena kebesaran hati mereka, harus ditutup dengan delapan gol dari Uruguay. Saya terharu oleh sambutan supporter Brazil di stadion serta ekspresi pemain Tahiti yang bangga karena sudah diberi kesempatan bermain dengan pemain terbaik dari benua lain. Saya lebih terharu lagi mengingat satu fakta yang perih, di turnamen yang sering disebut Piala Dunia mini, tim seperti Tahiti bisa berbagi satu lapangan dengan pemain juara. Saya jadi berpikir, apa sih yang menyebabkan Indonesia tak pernah mengirimkan dua puluh dua orang terbaiknya untuk berlaga dengan pemain hebat lain, bukan, saya tidak membicarakan Piala Konfederasi, saya membicarakan Piala Dunia. Penyebab dari keruhnya masa depan Indonesia tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab otoritas tertinggi sepakbola Indonesia, PSSI. Pemerintah tak boleh turut campur dalam menangani sepakbola karena sepakbola sudah menjadi tanggung jawab PSSI sebagai badan tertinggi yang berwenang mengatur segala yang bersangkutan dengan sepakbola Indonesia. Bila pemerintah ikut campur, bisa saja kita mendapatkan sanksi dari FIFA seperti yang dialami oleh Nigeria beberapa waktu lalu.

Lantas apa yang PSSI tunggu?

Kenapa mereka tidak melakukan riset dan pengembangan besar-besaran seperti DFB (federasi sepak bola Jerman) saat negaranya kalah di final Piala Dunia 2002 dan hancur lebur di penyisihan grup Piala Eropa 2004. Kenapa mereka tidak meniru sistem yang diterapkan oleh RFEF (asosiasi sepakbola Spanyol) hingga menghasilkan bibit berkualitas yang tak pernah habis? Tak perlu berbicara dalam konteks yang njelimet seperti tadi. Seperti yang selalu dikatakan orang tua, lihatlah dari contoh kecil, kedisiplinan.

PSSI tak pernah konsisten dan disiplin dalam menerapkan peraturan yang (ironisnya) mereka buat sendiri. Anda ingat dengan kasus pemukulan Pieter Rumaropen terhadap wasit? Coba cek ingatan anda bila anda sudah lupa dengan peristiwa tersebut, bahkan harian Inggris semacam Guardian sampai repot-repot memberitakan peristiwa tersebut. Pada awalnya Pieter dihukum oleh Komdis PSSI sanksi larangan seumur hidup terlibat dalam sepakbola Indonesia. Apa yang tersisa sekarang? Dia ternyata diputuskan lagi oleh Komding Cuma diskorsing setahun pertandingan. Bila penegakan aturan yang dibuat sendiri saja tidak konsisten, kapankah pemain memiliki rasa segan dan menghormati wasit? Belum lagi saat membicarakan pengaturan skor dan lainnya. Satu gulung tisu toilet pasti sudah habis untuk membahas inkonsistensi PSSI dalam penegakan aturan mereka sendiri. Kalau kita mencermati asosiasi sepakbola negara yang lolos ke Piala Dunia, mereka sangat tegas. Anda ingat terhadap aksi perkelahian yang dilakukan saat melawan mantan timnya musim lalu? Dia diskorsing 15 pertandingan Liga Premier Inggris hingga harus mengungsi ke kota pekerja Perancis, Marseille agar karirnya selamat. Kita juga bisa menelusuri data-data dan fakta tentang asosiasi sepakbola Jepang sebagai tim pertama yang lolos ke Piala Dunia Brazil tahun depan. pernahkah mereka inkonsisten terhadap peraturan yang dibuat sendiri. Kalau kurang contoh kasus, kita bisa melihat tindakan asosiasi sepakbola Korea Selatan yang menskorsing banyak pemain di K-League saat terbukti menjadi tersangka pengaturan skor. Bagaimana denganmu Indonesiaku? Pantaskah kita lolos ke Piala Dunia bila sikap yang ditunjukkan PSSI masih seperti ini?